PERSEPSI
Pengertian persepsi
Kotler (2000) menjelaskan persepsi sebagai proses bagaimana seseorang menyeleksi, mengatur dan menginterpretasikan masukan-masukan informasi untuk menciptakan gambaran keseluruhan yang berarti.
Kotler (2000) menjelaskan persepsi sebagai proses bagaimana seseorang menyeleksi, mengatur dan menginterpretasikan masukan-masukan informasi untuk menciptakan gambaran keseluruhan yang berarti.
Mangku negara
(dalam Arindita, 2002) berpendapat bahwa persepsi adalah suatu proses pemberian
arti atau makna terhadap lingkungan. Dalam hal ini persepsi mecakup penafsiran
obyek, penerimaan stimulus (Input), pengorganisasian stimulus, dan penafsiran
terhadap stimulus yang telah diorganisasikan dengan cara mempengaruhi perilaku
dan pembentukan sikap.
Walgito (1993) mengemukakan bahwa persepsi seseorang merupakan
proses aktif yang memegang peranan, bukan hanya stimulus yang mengenainya
tetapi juga individu sebagai satu kesatuan dengan pengalaman-pengalamannya,
motivasi serta sikapnya yang relevan dalam menanggapi stimulus. Individu dalam
hubungannya dengan dunia luar selalu melakukan pengamatan untuk dapat
mengartikan rangsangan yang diterima dan alat indera dipergunakan sebagai
penghubungan antara individu dengan dunia luar. Agar proses pengamatan itu
terjadi, maka diperlukan objek yang diamati alat indera yang cukup baik dan
perhatian merupakan langkah pertama sebagai suatu persiapan dalam mengadakan
pengamatan. Persepsi dalam arti umum adalah pandangan seseorang terhadap
sesuatu yang akan membuat respon bagaimana dan dengan apa seseorang akan
bertindak.
Leavitt (dalam Rosyadi, 2001) membedakan persepsi menjadi dua pandangan, yaitu pandangan secara sempit dan luas. Pandangan yang sempit mengartikan persepsi sebagai penglihatan, bagaimana seseorang melihat sesuatu. Sedangkan pandangan yang luas mengartikannya sebagai bagaimana seseorang memandang atau mengartikan sesuatu. Sebagian besar dari individu menyadari bahwa dunia yang sebagaimana dilihat tidak selalu sama dengan kenyataan, jadi berbeda dengan pendekatan sempit, tidak hanya sekedar melihat sesuatu tapi lebih pada pengertiannya.
Persepsi berarti analisis mengenai cara mengintegrasikan penerapan kita terhadap hal-hal di sekeliling individu dengan kesan-kesan atau konsep yang sudah ada, dan selanjutnya mengenali benda tersebut. Untuk memahami hal ini, akan diberikan contoh sebagai berikut: individu baru pertama kali menjumpai buah yang sebelumnya tidak kita kenali, dan kemudian ada orang yang memberitahu kita bahwa buah itu namanya mangga. Individu kemudian mengamati serta menelaah bentuk, rasa, dan lain sebagainya, dari buah itu secara saksama. Lalu timbul konsep mengenai mangga dalam benak (memori) individu. Pada kesempatan lainnya, saat menjumpai buah yang sama, maka individu akan menggunakan kesan-kesan dan konsep yang telah kita miliki untuk mengenali bahwa yang kita lihat itu adalah mangga (Taniputera, 2005).
Leavitt (dalam Rosyadi, 2001) membedakan persepsi menjadi dua pandangan, yaitu pandangan secara sempit dan luas. Pandangan yang sempit mengartikan persepsi sebagai penglihatan, bagaimana seseorang melihat sesuatu. Sedangkan pandangan yang luas mengartikannya sebagai bagaimana seseorang memandang atau mengartikan sesuatu. Sebagian besar dari individu menyadari bahwa dunia yang sebagaimana dilihat tidak selalu sama dengan kenyataan, jadi berbeda dengan pendekatan sempit, tidak hanya sekedar melihat sesuatu tapi lebih pada pengertiannya.
Persepsi berarti analisis mengenai cara mengintegrasikan penerapan kita terhadap hal-hal di sekeliling individu dengan kesan-kesan atau konsep yang sudah ada, dan selanjutnya mengenali benda tersebut. Untuk memahami hal ini, akan diberikan contoh sebagai berikut: individu baru pertama kali menjumpai buah yang sebelumnya tidak kita kenali, dan kemudian ada orang yang memberitahu kita bahwa buah itu namanya mangga. Individu kemudian mengamati serta menelaah bentuk, rasa, dan lain sebagainya, dari buah itu secara saksama. Lalu timbul konsep mengenai mangga dalam benak (memori) individu. Pada kesempatan lainnya, saat menjumpai buah yang sama, maka individu akan menggunakan kesan-kesan dan konsep yang telah kita miliki untuk mengenali bahwa yang kita lihat itu adalah mangga (Taniputera, 2005).
Kehidupan individu
sejak dilahirkan tidak lepas dari
interaksi dengan lingkungan fisik
maupun lingkungan sosial. Dalam interaksi ini, individu menerima rangsang atau
stimulus dari luar dirinya.
Persepsi
merupakan proses akhir dari pengamatan yang di awali oleh proses penginderaan,
yaitu proses diterimanya stimulus oleh alat indera, kemudian individu ada perhatian,
lalu diteruskan ke otak, dan baru kemudian individu menyadari tentang sesuatu
yang dinamakan persepsi.
·
Pengertian
a.
Persepsi adalah proses pengorganisasian,
penginterpretasian terhadap rangsang yang diterima oleh organism atau individu
sehingga merupakan sesuatu yang berarti dan merupakan aktivitas yang integrated
dalam diri individu (Bimo Walgito, 2001)
b.
Persepsi ialah
daya mengenal barang, kualitas atau hubungan, dan perbedaan antara hal
ini melalui proses mengamati, mengetahui, atau mengartikan setelah panaca
indera nya mendapatkan rangsang ( Maramis, 1999)
Persespsi
berkenan dengan fenomena di mana hubungan antara stimulus dan pengalama n yang
lebih kompleks ketimbang dengan fenomena yang ada pada sensasi. Fenomena persepsi tergantung pada proses –
proses yang lebih tinggi tingkatannya.
·
James. P Chaplin mengatakan bahwa persepsi
adalah proses untuk mengetahui atau mengenal objek atau kejadian objektif yang
menggunakan indera dan kesadaran dari proses – proses organis.
·
Titchener mengatakan bahwa persepsi adalah suatu kelompok penginderaan
dengan penambahan arti – arti yang berasal dari pengalaman masa lalu.
·
Menurut pandangan psikologi kontemporer persepsi
secara umum di perlakukan sebagai ssatu variabel campur tangan (variabel
interfening) yang tergantung pada factor – factor motivasional.
·
Secara umum, perseps adalah proses mengamati
dunia luar yang mengcakup perhatian, pemahaman, dan pengenalan objek – objek
atau peristiwa..
Persepsi dapat
diartikan sebagai proses diterimanya rangsang melalui panca indera yang
didahului oleh perhatian sehingga indovidu mampu mengetahui, mengartikan, dan
menghayati tentang hal yang diiamati, baik yang ada di luar maupun dalam diri
individu.
Dari definisi persepsi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa
persepsi merupakan suatu proses bagaimana seseorang menyeleksi, mengatur dan
menginterpretasikan masukan-masukan informasi dan pengalaman-pengalaman yang
ada dan kemudian menafsirkannya untuk menciptakan keseluruhan gambaran yang
berarti.
Bentuk – Bentuk Persepsi
a.
Persepsi Jarak
Persepsi
jarak sebelumnya merupakan suatu teka – teki bagi teoritis persepsi, karena cenderung dianggap sebagai apa yang
dihayati oleh indera perorangan yang berkaitan dengan bayangan dua dimensi.
Akhirnya ditemukan bahwa stimulus visual memiliki cirri – cirri yang
berhubungan dengan jarak pengamatan. Atau lebih dikenal dengan istilah isyarat
jarak. Sebagian factor ini hanya ada bila suatu penglihatan di pandang dengan
kedua mata (isyarat binokuler) dan sebagian lagi ada dalam stimulus luas pada
tiap mata (isyarat monokuler). Persepsi jarak menjadi lebih rumit karena sangat
tergantung pada sejumlah besar factor.
b.
Persepsi Gerakan
Gibson,
dkk. Mengatakan bahwa isyarat persepsi
gerakan ada di lingkungan sekitar manusia. Kita melihat sebuah benda bergerak
karena ketika benda itu bergerak, sebagian menutupi dan sebagian lagi tidak
menutupi latar belakangnya yang tak bergerak. Kita juga akan melihat benda-
benda bergerak ketika berubah gerak.
Kita melihat bagian baru ketika bagian lain hilang dari pandangan. Jadi
tidak peduli apakah pandangan mata kita mengikuti benda yang bergerak atau pada
latar belakangnya. Suatu hal akan menjadi menarik jika meninggalkan isyarat
yang ambigius sehingga dapat memungkinkan terjadinya kekeliruan dalam
memersepsi.
c.
Persepsi Kedalaman
Persepsi
kedalaman dimungkinkan akan muncul melalu I penggunaan isyarat – isyarat fisik,
seperti akomodasi, konfergensi dan disparitas selaput jala dari mata dan juga
disebabkan oleh isyarat – isyarat yang di pelajari dari perspektif linier dan
udara interposisi atau meletakkan di tengah – tengah, dimana ukuran relative
dari objek dalam penjajaran, bayangan, ketinggian tekstur, atau susunan.
GANGGUAN PERSEPSI (DISPERSEPSI)
Dispersepsi
adalah kesalahan atau gangguan persepsi.
·
Penyebab dispersi
Gangguan otak
karena kerusakan otak, keracuanan, obat halusinogenik ; gangguan jiwa, seperti
emosi tertentu yang dapat mengakibatkan ilusi, psikosis yang dapat menimbulkan
halusinasi ; dan pengaruh lingkungan sosio/budaya, sosio/budaya yang berbeda
menimbulkan persepsi berbeda atau orang yang berasal dari sosial budaya yang
berbeda.
Macam-macam Gangguan Persepsi
Menurut Maramis
(1999), terdapat 7 macam gangguan persepsi,
yaitu halusinasi, ilusi, dipersonalisasi, derealisasi, gangguan
somatosensori pada reaksi konfersi, gangguan psikologik dan agnosia.
·
Halusinasi
atau maya
Halusinasi
adalah pencerapan (persepsi) tampa adanya rangsang apapun pada panca indra
seseorang, yang terjadi pada keadaan sadar / bangun dasarnya mungkin organik,
fungsional, psikotik ataupun histerik (Maramis,1990). Oleh karena itu secara
singkat halusinasi adalah persepsi atau pengamatan palsu.
·
Jenis-jenis Halusinasi
a.
Halusinasi penglihatan (halusinasi optik) :
contoh ; apa yang di lihat seolah-olah berwarna atau tidak berwarna.
b.
Halusinasi auditif atau halusinasi akustik
: halusinasi yang seolah-olah mendengar
suara tertentu.
c.
Halusinasi olfaktorik (halusinasi penciuman) :
halusinasi yang seolah-olah mencium bau tertentu.
d.
Halusinasi gustatorik (halusinasi pengecap) :
halusinasi yang seolah-olah mengecap suatu zat atau rasa tentang suatu yang
dimakan.
e.
Halusinasi taktil (halusinasi peraba) :
halusinasi yang seolah-olah merasa diraba, disentuh, dicolek, dirambati ulat
dan disinari.
f.
Halusinasi kinestik (halusinasi gerak) :
halusinasi yang seolah-olah merasa badannya bergerak dengan sendirinya.
g.
Halusinasi visceral : halusinasi alat tubuh
bagian dalam yang seolah-olah ada perasaan tertentu yang timbul ditubuh bagian dalam (missal lambung
seperti ditusuk-tusuk jarum).
h.
Halusinasi hipnagogik : persepsi sensori bekerja
yang salah yang terdapat pada orang normal, terjadi sebelum tidur.
i.
Halusinasi hipnopompik : persepsi sensori yang
bekerja salah, pada orang normal, terjadi tepat sebelum bangun tidur.
j.
Halusinasi histerik : halusinasi yang timbul
pada neurosis histerik karena konflik emosional.
Iilusi adalah
interpretasi yang salah atau menyimpang tentang penyerapan ( persepsi) yang
sebenarnya sunggu-sungguh terjadi karena
adanya rangsang pada pancaindra.
Derealisasi
ialah perasaan aneh tentang lingkungan disekitar dan tidak menurut kenyataan
sebenarnya.
Depersonalisasi
ialah perasaan yang aneh tentang dirinya atau perasaan bahwa pribadinya sudah
tidak seperti biasa lagi, tidal menurut kenyataan atau kondisi patologis yang
seseorang merasa bahwa dirinya atau tubuhnya sebaga tidak nyata.
Gangguan
somatosensorik pada reaksi konfersi, secara harfiah soma artinya tubuh, dan sensorik
artinya mekanisme neuroligis yang terlibat dalam prose penginderaan dan
perasaan. Jadi, somatosensori adalah suatu keadaan menyangkut tubuh yang secara
simbolik menggambarkan adanya suatu konflik emosional. Contoh :
a.
Anesthesia, yaitu kehilangan sebagian atau
keseluruhan kepekaan indra peraba pada kulit.
b.
Parestesi, yaitu perubahan pada indra peraba,
seperti ditusuk-tusuk jarum.
c.
Gangguan penglihatan atau pendengaran.
d.
Makropsia, yaitu melihat benda lebih besar dari
keadaan sebenarnya bahkan kadang-kadang terlaluu besar sehingga menakutkan.
e.
Mikropsia, yaitu melihat benda lebih kecil dari
sebenarnya.
Gangguan
psikofisiologik ialah gangguan pada tubuh yang disarafi oleh susunan saraf yang
berhubungan dengan kehidupan dan disebabkan oleh gangguan emosi. Contoh :
a.
Kulit : radang kulit, biduran, gatal-gatal, dan
banyak cairan pada kulit.
b.
Otot dan tulang : otot tegang sampai kaku, otot
tegang dan kaku di punggung,
c.
Alat pernapasan : sindrom hiperventilasi.
d.
Jantung dan pembuluh darah : debaran jantung
yang cepat.
e.
Alat pencernaan : lambung perih, mual, dan
muntah.
f.
Alat kemih dan alat kelamin : sering berkemih,
ngompol, sakit waktu menstruasi.
g.
Mata : mata berkunangkunang dan telinga
berdenging
Agnosia adalah
ketidakmampuan untuk mengenal dan mengartikan persepsi, baik sebagian maupun
total sebagai akibat kerusakan otak.
DAFTAR PUSTAKA
Sunaryo.2004.psikologi untuk keperawatan.Jakarta:EGC
Pieter, Herri
Zan.pengantar psikologi dalam keperawatan.Jakarta:EGC
Ahmadi,
Abu.1999.Psikologi Sosial.Jakarta:Penerbit
Rineka Cipta
Gerungan,
WA.1996.Psikologi Sosial.Bandung: PT
eresco
No comments:
Post a Comment