Sunday, January 20, 2013

psikologi_persepsi


PERSEPSI
Pengertian persepsi
Kotler (2000) menjelaskan persepsi sebagai proses bagaimana seseorang menyeleksi, mengatur dan menginterpretasikan masukan-masukan informasi untuk menciptakan gambaran keseluruhan yang berarti.
Mangku negara (dalam Arindita, 2002) berpendapat bahwa persepsi adalah suatu proses pemberian arti atau makna terhadap lingkungan. Dalam hal ini persepsi mecakup penafsiran obyek, penerimaan stimulus (Input), pengorganisasian stimulus, dan penafsiran terhadap stimulus yang telah diorganisasikan dengan cara mempengaruhi perilaku dan pembentukan sikap.
Walgito (1993) mengemukakan bahwa persepsi seseorang merupakan proses aktif yang memegang peranan, bukan hanya stimulus yang mengenainya tetapi juga individu sebagai satu kesatuan dengan pengalaman-pengalamannya, motivasi serta sikapnya yang relevan dalam menanggapi stimulus. Individu dalam hubungannya dengan dunia luar selalu melakukan pengamatan untuk dapat mengartikan rangsangan yang diterima dan alat indera dipergunakan sebagai penghubungan antara individu dengan dunia luar. Agar proses pengamatan itu terjadi, maka diperlukan objek yang diamati alat indera yang cukup baik dan perhatian merupakan langkah pertama sebagai suatu persiapan dalam mengadakan pengamatan. Persepsi dalam arti umum adalah pandangan seseorang terhadap sesuatu yang akan membuat respon bagaimana dan dengan apa seseorang akan bertindak.
Leavitt (dalam Rosyadi, 2001) membedakan persepsi menjadi dua pandangan, yaitu pandangan secara sempit dan luas. Pandangan yang sempit mengartikan persepsi sebagai penglihatan, bagaimana seseorang melihat sesuatu. Sedangkan pandangan yang luas mengartikannya sebagai bagaimana seseorang memandang atau mengartikan sesuatu. Sebagian besar dari individu menyadari bahwa dunia yang sebagaimana dilihat tidak selalu sama dengan kenyataan, jadi berbeda dengan pendekatan sempit, tidak hanya sekedar melihat sesuatu tapi lebih pada pengertiannya.
Persepsi berarti analisis mengenai cara mengintegrasikan penerapan kita terhadap hal-hal di sekeliling individu dengan kesan-kesan atau konsep yang sudah ada, dan selanjutnya mengenali benda tersebut. Untuk memahami hal ini, akan diberikan contoh sebagai berikut: individu baru pertama kali menjumpai buah yang sebelumnya tidak kita kenali, dan kemudian ada orang yang memberitahu kita bahwa buah itu namanya mangga. Individu kemudian mengamati serta menelaah bentuk, rasa, dan lain sebagainya, dari buah itu secara saksama. Lalu timbul konsep mengenai mangga dalam benak (memori) individu. Pada kesempatan lainnya, saat menjumpai buah yang sama, maka individu akan menggunakan kesan-kesan dan konsep yang telah kita miliki untuk mengenali bahwa yang kita lihat itu adalah mangga (Taniputera, 2005).
Kehidupan individu sejak dilahirkan tidak lepas dari  interaksi dengan  lingkungan fisik maupun lingkungan sosial. Dalam interaksi ini, individu menerima rangsang atau stimulus dari luar dirinya.
Persepsi merupakan proses akhir dari pengamatan yang di awali oleh proses penginderaan, yaitu proses diterimanya stimulus oleh alat indera, kemudian individu ada perhatian, lalu diteruskan ke otak, dan baru kemudian individu menyadari tentang sesuatu yang dinamakan persepsi.
·         Pengertian
a.       Persepsi adalah proses pengorganisasian, penginterpretasian terhadap rangsang yang diterima oleh organism atau individu sehingga merupakan sesuatu yang berarti dan merupakan aktivitas yang integrated dalam diri individu (Bimo Walgito, 2001)
b.      Persepsi ialah  daya mengenal barang, kualitas atau hubungan, dan perbedaan antara hal ini melalui proses mengamati, mengetahui, atau mengartikan setelah panaca indera nya mendapatkan rangsang ( Maramis, 1999)
Persespsi berkenan dengan fenomena di mana hubungan antara stimulus dan pengalama n yang lebih kompleks ketimbang dengan fenomena yang ada pada sensasi.  Fenomena persepsi tergantung pada proses – proses yang lebih tinggi tingkatannya.
·         James. P Chaplin mengatakan bahwa persepsi adalah proses untuk mengetahui atau mengenal objek atau kejadian objektif yang menggunakan indera dan kesadaran dari proses – proses organis.
·         Titchener mengatakan bahwa  persepsi adalah suatu kelompok penginderaan dengan penambahan arti – arti yang berasal dari pengalaman masa lalu.
·         Menurut pandangan psikologi kontemporer persepsi secara umum di perlakukan sebagai ssatu variabel campur tangan (variabel interfening) yang tergantung pada factor – factor motivasional.
·         Secara umum, perseps adalah proses mengamati dunia luar yang mengcakup perhatian, pemahaman, dan pengenalan objek – objek atau peristiwa..
Persepsi dapat diartikan sebagai proses diterimanya rangsang melalui panca indera yang didahului oleh perhatian sehingga indovidu mampu mengetahui, mengartikan, dan menghayati tentang hal yang diiamati, baik yang ada di luar maupun dalam diri individu.
Dari definisi persepsi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa persepsi merupakan suatu proses bagaimana seseorang menyeleksi, mengatur dan menginterpretasikan masukan-masukan informasi dan pengalaman-pengalaman yang ada dan kemudian menafsirkannya untuk menciptakan keseluruhan gambaran yang berarti.
Bentuk – Bentuk Persepsi
a.       Persepsi Jarak
Persepsi jarak sebelumnya merupakan suatu teka – teki bagi teoritis persepsi,  karena cenderung dianggap sebagai apa yang dihayati oleh indera perorangan yang berkaitan dengan bayangan dua dimensi. Akhirnya ditemukan bahwa stimulus visual memiliki cirri – cirri yang berhubungan dengan jarak pengamatan. Atau lebih dikenal dengan istilah isyarat jarak. Sebagian factor ini hanya ada bila suatu penglihatan di pandang dengan kedua mata (isyarat binokuler) dan sebagian lagi ada dalam stimulus luas pada tiap mata (isyarat monokuler). Persepsi jarak menjadi lebih rumit karena sangat tergantung pada sejumlah besar factor.
b.      Persepsi Gerakan
Gibson, dkk. Mengatakan bahwa isyarat  persepsi gerakan ada di lingkungan sekitar manusia. Kita melihat sebuah benda bergerak karena ketika benda itu bergerak, sebagian menutupi dan sebagian lagi tidak menutupi latar belakangnya yang tak bergerak. Kita juga akan melihat benda- benda bergerak ketika berubah gerak.  Kita melihat bagian baru ketika bagian lain hilang dari pandangan. Jadi tidak peduli apakah pandangan mata kita mengikuti benda yang bergerak atau pada latar belakangnya. Suatu hal akan menjadi menarik jika meninggalkan isyarat yang ambigius sehingga dapat memungkinkan terjadinya kekeliruan dalam memersepsi.
c.       Persepsi Kedalaman
Persepsi kedalaman dimungkinkan akan muncul melalu I penggunaan isyarat – isyarat fisik, seperti akomodasi, konfergensi dan disparitas selaput jala dari mata dan juga disebabkan oleh isyarat – isyarat yang di pelajari dari perspektif linier dan udara interposisi atau meletakkan di tengah – tengah, dimana ukuran relative dari objek dalam penjajaran, bayangan, ketinggian tekstur, atau susunan.

GANGGUAN PERSEPSI (DISPERSEPSI)
Dispersepsi adalah kesalahan atau gangguan persepsi.
·         Penyebab dispersi
Gangguan otak karena kerusakan otak, keracuanan, obat halusinogenik ; gangguan jiwa, seperti emosi tertentu yang dapat mengakibatkan ilusi, psikosis yang dapat menimbulkan halusinasi ; dan pengaruh lingkungan sosio/budaya, sosio/budaya yang berbeda menimbulkan persepsi berbeda atau orang yang berasal dari sosial budaya yang berbeda.
Macam-macam Gangguan Persepsi
Menurut Maramis (1999), terdapat 7 macam gangguan persepsi,  yaitu halusinasi, ilusi, dipersonalisasi, derealisasi, gangguan somatosensori pada reaksi konfersi, gangguan psikologik dan agnosia.
·         Halusinasi atau maya
Halusinasi adalah pencerapan (persepsi) tampa adanya rangsang apapun pada panca indra seseorang, yang terjadi pada keadaan sadar / bangun dasarnya mungkin organik, fungsional, psikotik ataupun histerik (Maramis,1990). Oleh karena itu secara singkat halusinasi adalah persepsi atau pengamatan palsu.
·         Jenis-jenis Halusinasi
a.       Halusinasi penglihatan (halusinasi optik) : contoh ; apa yang di lihat seolah-olah berwarna atau tidak  berwarna.
b.      Halusinasi auditif atau halusinasi akustik :  halusinasi yang seolah-olah mendengar suara tertentu.
c.       Halusinasi olfaktorik (halusinasi penciuman) : halusinasi yang seolah-olah mencium bau tertentu.
d.      Halusinasi gustatorik (halusinasi pengecap) : halusinasi yang seolah-olah mengecap suatu zat atau rasa tentang suatu yang dimakan.
e.      Halusinasi taktil (halusinasi peraba) : halusinasi yang seolah-olah merasa diraba, disentuh, dicolek, dirambati ulat dan disinari.
f.        Halusinasi kinestik (halusinasi gerak) : halusinasi yang seolah-olah merasa badannya bergerak dengan sendirinya.
g.       Halusinasi visceral : halusinasi alat tubuh bagian dalam yang seolah-olah ada perasaan tertentu yang  timbul ditubuh bagian dalam (missal lambung seperti ditusuk-tusuk jarum).
h.      Halusinasi hipnagogik : persepsi sensori bekerja yang salah yang terdapat pada orang normal, terjadi sebelum tidur.
i.         Halusinasi hipnopompik : persepsi sensori yang bekerja salah, pada orang normal, terjadi tepat sebelum bangun tidur.
j.        Halusinasi histerik : halusinasi yang timbul pada neurosis histerik karena konflik emosional.
Iilusi adalah interpretasi yang salah atau menyimpang tentang penyerapan ( persepsi) yang sebenarnya sunggu-sungguh terjadi  karena adanya rangsang pada pancaindra.
Derealisasi ialah perasaan aneh tentang lingkungan disekitar dan tidak menurut kenyataan sebenarnya.
Depersonalisasi ialah perasaan yang aneh tentang dirinya atau perasaan bahwa pribadinya sudah tidak seperti biasa lagi, tidal menurut kenyataan atau kondisi patologis yang seseorang merasa bahwa dirinya atau tubuhnya sebaga tidak nyata.
Gangguan somatosensorik pada reaksi konfersi, secara harfiah soma artinya tubuh, dan sensorik artinya mekanisme neuroligis yang terlibat dalam prose penginderaan dan perasaan. Jadi, somatosensori adalah suatu keadaan menyangkut tubuh yang secara simbolik menggambarkan adanya suatu konflik emosional.  Contoh :
a.       Anesthesia, yaitu kehilangan sebagian atau keseluruhan kepekaan indra peraba pada kulit.
b.      Parestesi, yaitu perubahan pada indra peraba, seperti ditusuk-tusuk jarum.
c.       Gangguan penglihatan atau pendengaran.
d.      Makropsia, yaitu melihat benda lebih besar dari keadaan sebenarnya bahkan kadang-kadang terlaluu besar sehingga menakutkan.
e.      Mikropsia, yaitu melihat benda lebih kecil dari sebenarnya.
Gangguan psikofisiologik ialah gangguan pada tubuh yang disarafi oleh susunan saraf yang berhubungan dengan kehidupan dan disebabkan oleh gangguan emosi. Contoh :
a.       Kulit : radang kulit, biduran, gatal-gatal, dan banyak cairan pada kulit.
b.      Otot dan tulang : otot tegang sampai kaku, otot tegang dan kaku di punggung,
c.       Alat pernapasan : sindrom hiperventilasi.
d.      Jantung dan pembuluh darah : debaran jantung yang cepat.
e.      Alat pencernaan : lambung perih, mual, dan muntah.
f.        Alat kemih dan alat kelamin : sering berkemih, ngompol, sakit waktu menstruasi.
g.       Mata : mata berkunangkunang dan telinga berdenging
Agnosia adalah ketidakmampuan untuk mengenal dan mengartikan persepsi, baik sebagian maupun total sebagai akibat kerusakan otak.
  




















DAFTAR PUSTAKA
Sunaryo.2004.psikologi untuk keperawatan.Jakarta:EGC
Pieter, Herri Zan.pengantar psikologi dalam keperawatan.Jakarta:EGC
Ahmadi, Abu.1999.Psikologi Sosial.Jakarta:Penerbit Rineka Cipta
Gerungan, WA.1996.Psikologi Sosial.Bandung: PT eresco

Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment