Sunday, January 20, 2013

fraktur


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Manusia memiliki tulang dan sendi (sistem gerak) yang memiliki banyak fungsi untuk menunjang kehidupan manusia. Tanpa kondisi yang normal, tulang dan sendi manusia akan kesulitan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Sama  dengan sistem organ yang lain, sistem gerak juga dapat mengalami gangguan atau kelainan. Faktor-faktor penyebab gangguan atau kelainan, antara lain disebabkan oleh kebiasaan, pola hidup atau biasa pula berasal dari pembawaan. Hal Ini dapat terjadi akibat gangguan faktor luar maupun faktor dalam. Faktor luar dapat diakibatkan karena kecelakaan dan serangan penyakit, sedangkan faktor dalam bisa terjadi karena bawaan atau kesalahan gerak yang tidak biasa dilakukan. Kelainan dan gangguan pada tulang dapat mengganggu proses gerakan yang normal. Salah satunya adalah fraktur.

B.       Rumusan Masalah
Ada pun rumusan masalah yang kami jelaskan pada makalah ini, sebagai berikut:
·           Apa konsep phatofisiologi fraktur?
·           Apa pemeriksaan penunjang pada fraktur?
·           Bagaimana rencana asuhan keperawatan pada fraktur?

C.      Tujuan
Tujuan yang kami inginkan dalam pembuatan makalah ini, sebagai berikut:
·           Untuk mengetahui konsep patofisiologi fraktur.
·           Untuk mengetahui apa saja pemeriksaan penunjang pada fraktur.
·           Untuk mengetahui perencanaan asuhan keperawatan pada fraktur.

D.      Metode penulisan
Buku-buku yang berhubungan dengan sistem muskuloskeleteal
Sumber informasi dari Internet yang berhubungan dengan sistem muskuloskeletal




BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Fraktur
Fraktur adalah patah tulang atau terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuaijenis dan luasnya, biasanya disebabkan oleh pukulan langsung, gaya meremuk, dan gerakan puntir yang mendadak. Kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang, dan jaringan lunak disekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap atau tidak lengkap. Fraktur lengkap terjadi apabila seluruh tulang patah, sedangkan pada fraktur tidak lengkap melibatkan seluruh ketebalan tulang.
.

B.       Klasifikasi fraktur
Ada beberapa istilah yang dipakai untuk menjelaskan fraktur, yaitu :
1.         Sudut patah
a.         Fraktur Transversal
Merupakan fraktur yang garis patahnya tegak lurus terhadap sumbu panjang tulang. Pada fraktur semacam ini, segmen-segmen tulang yang patah direposisi atau direduksi kembali ketempatnya semula, maka segmen-segmen itu akan stabil, dan biasanya mudah dikontrol dengan bidai gips.
b.        Fraktur Oblik
Merupakan fraktur yang garis patahnya membentuk sudut terhadap tulang. Fraktur ini tidak stabil dan sulit diperbaiki.
c.         Fraktur Spiral
Fraktur ini timbul akibat torsi pada ekstremitas. Fraktur ini adalah jenis fraktur yang rendah energi yang hanya menimbulkan sedikit kerusakan jaringan lunak, dan mudah sembuh dengan imobilisasi luar.
2.         Fraktur Multipel pada Satu Tulang
a.          Fraktur Segmental
Merupakan dua fraktur berdekatan pada satu tulang yang menyebabkan terpisahnya segmen sentral dari suplai darahnya. Fraktur semacam ini sulit ditangani. Biasanya satu ujung yang tidak memiliki pembuluh darah menjadi sulit untuk disembuhkandan keadaan ini mungkin memerlukan pengobatan secara bedah.
b.        Fraktur Kominuta
Merupakan serpihan-serpihan atau terputusnya keutuhan jaringan dengan lebih dari dua fragmen tulang.
3.         Fraktur Impaksi
a.         Fraktur Kompresi
Fraktur ini terjadi ketika dua tulang menumbuk tulang ketiga yang berada diantaranya. Pada orang muda, fraktur kompresi dapat disertai perdarahan retroperitoneal yang cukup berat.
4.         Fraktur Patologik
Terjadi pada daerah-daerah tulang yang telah menjadi lemah karena tumor atau proses patologik lainnya. Tulang sering kali menunjukan penurunan densitas. Penyebab yang paling sering dari fraktur-fraktur semacam ini adalah tumor primer atau tumor metastasis.


5.         Fraktur Beban ( kelelahan lainnya )
Fraktur ini biasanya terjadi pada orang-orang yang baru saja menambah tingkat aktivitas mereka. Pada saat awal gejala timbul, radiogram terkadang tidak menunjukan adanya fraktur. Tetapi, biasanya setelah dua minggu timbul garis-garis radiopak linear tegak lurus terhadap sumbu panjang tulang. Fraktur semacam ini akan sembuh dengan baik jika tulang itu diimobolisasi selama beberapa minggu. Tetapi jika tidak terdiagnosis, tulang-tulang itu dapat bergeser dari tempat asalnya dan tidak sembuh dengan seharusnya. Jika mengalami fraktur ini dapat diproteksi dengan memakai tongkat atau bidai gips, setelah dua minggu harus dilakukan pemeriksaan radiografi.
6.         Fraktur Greenstick
Merupakan fraktur yang tidak sempurna dan sering terjadi pada anak-anak. Korteks tulangnya sebagian masih utuh demikian juga periosteum. Fraktur-fraktur ini akan segera sembuh dan akan segera mengalami remodeling kebentuk dan fungsi normal.
7.         Fraktur Avulsi
Fraktur ini memisahkan suatu fragmen tulang pada tempat insersi tendon ataupun ligamen. Biasanya tidak ada pengobatan yang spesifik yang diperlukan. Namun bila diduga terjadi ketidakstabilan sendi atau hal-hal lain yang menyebabkan kecacatan, maka perlu dilakukan pembedahan untuk membuang atau meletakan kembali fragmen tulang yang mengalami kerusakan.
C.      Penyembuhan Fraktur
Jika satu tulang sudah patah, jaringan lunak disekitarnya juga akan rusak, periosteum akan terpisah dari tulang dan terjadi perdarahan yang cukup berat. Bekuan darah pun akan terbentuk pada daerah tersebut. Bekuan akan membentuk jaringan granulasi di dalamnya dengan sel-sel pembentuk tulang primitif ( osteogenik ) berdiferensiasi menjadi kondroblas dan osteoblas. Kondroblas akan mensekresi fosfat, yang merangsang deposisi kalsium. Terbentuk kalus disekitar lokasi fraktur. Lapisan ini terus menebal dan meluas, bertemu dengan lapisan kalus dari fragmen satunya dan menyatu. Penyatuan dari dua fragmen ( penyembuhan fraktur ) terus berlanjut dengan terbentuknya trabekula oleh osteoblas, yang melekat pada tulang dan meluas menyeberangi lokasi fraktur. Penyatuan tulang ini akan menjalani transformasi metaplastik untuk menjadi lebih kuat dan lebih terorganisasi. Kalus tulang akan mengalami remodeling untuk mengambil bentu tulang yang utuh seperti bentuk osteoblas tulang baru dan osteoklas akan menyingkirkan bagian yang rusak dan tulang sementara.









D.      Manifestasi klinis
·           Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang   diimobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar fragmen tulang.
·           Deformitas dapat disebabkan pergeseran fragmen pada fraktur lengan dan eksremitas. Deformitas dapat di ketahui dengan membandingkan dengan ekstremitas normal. Ekstremitas tidak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi  normal otot bergantung pada integritas tulang tempat melengketnya obat.
·           Pemendekan tulang, karena kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah  tempat fraktur. Fragmen sering saling melingkupi satu sama lain sampai 2,5 sampai 5,5 cm
·           Krepitasi yaitu pada saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang. Krepitasi yang teraba akibat gesekan antar fragmen satu dengan lainnya.
·           Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini baru terjadi setelah beberapa jam atau beberapa hari setelah cedera.





E.       Pemeriksaan penunjang
·           Laboratorium :
Pada fraktur test laboratorium yang perlu diketahui : Hb, hematokrit sering rendah akibat perdarahan, laju endap darah (LED) meningkat bila kerusakan jaringan lunak sangat luas. Pada masa penyembuhan Ca dan P mengikat di dalam darah.
·           Radiologi :
X-Ray dapat dilihat gambaran fraktur, deformitas dan metalikment. Venogram/anterogram menggambarkan arus vascularisasi. CT scan untuk mendeteksi struktur fraktur yang kompleks. 

F.       Asuhan Keperawatan pada Fraktur
1.         Pengkajian
Aktivitas dan istirahat
Tanda:
}   keterbatasan/ kehilangan fungsi pada bagian yang terkena (mungkin segera, fraktur atau terjadi secara sekunder, dari pembengkakan jaringan, nyeri.
Sirkulasi
Tanda:
}   hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai respon terhadap nyeri/ ansietas) atau hipotensi (kehilangan darah)
}   takikardi  (respons terhadap stres, hipovolemia)
}   penurunan nadi pada bagian distal yang cedera, pengisian kapiler lambat, pucat pada bagian yang terkena
}   pembengkakan jaringan atau massa hematoma pada sisi yang cedera
Neurosensori
Gejala:
}   hilang gerakan/ sensasi, spame otot
}   kebas/ kesemutan
Tanda:
}   deformitas lokal, pemendekan, krepitasi, spasme otot, terlihat kelemahan dan hilangnya fungsi
}   agitasi (berhubungan dengan nyeri/ ansietas)

Nyeri/ kenyamanan
Gejala:
}   nyeri berat tiba-tiba pada saat cedera (mungkin terlokalisasi pada area jaringan/ kerusakan tulang; dapat berkurang pada imobilisasi)
}   Spasme/ kram otot (setelah imobilisasi)
Keamanan
Tanda:
}   Laserasi kulit, avulsi jaringan, perdarahan, perubahan warna
}   Pembengkakan lokal (secara bertahap atau tiba-tiba)

2.         Diagnosa keperawatan
a.         Nyeri b.d spasme otot, gerakan fragmen tulang, edema, dan cedera pada jaringan lunak, stres, ansietas
b.        Resiko tinggi terhadap cedera yang b.d kerusakan neurovaskuler, tekanan dan disuse
c.         Kurang perawatan diri yang b.d hilangnya kemampuan menjalankan aktivitas kehidupan sehari-hari
d.        Kerusakan mobilitas fisik b.d nyeri, terapi restriktif (imobilisasi)

3.         Intervensi Keperawatan
Dx: Nyeri yang berhubungan dengan fraktur
Hasil yang diharapkan: menyatakan nyeri hilang
1.        Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring, gips, pembebat, traksi.
       Rasional: menghilangkan nyeri dan mencegah kesalahan posisi tulang/ tegangan jaringan yang cedera
2.        Tinggikan dan dukung ekstremitas yang terkena fraktur.
       Rasional: meningkatkan aliran balik vena, menurunkan edema, dan menurunkan nyeri.
3.        Hindari penggunaan sprei/ bantal plastik di bawah ekstremitas dalam gips
       Rasional: dapat meningkatkan ketidaknyamanan karena peningkatan produksi panas dalam gips yang kering.


4.        Jelaskan prosedur sebelum memulai
       Rasional: memungkinkan pasien untuk siap secara mental untuk aktivitas juga berpartisipasi dalam mengontrol tingkat ketidaknyamanan.
5.        Evaluasi keluhan nyeri, perhatikan lokasi dan karakteristik, termasuk intensitas dan skala nyeri.
Rasional: mempengaruhi pilihan keefektifan intervensi. Tingkat ansietas dapat mempengaruhi reaksi terhadap nyeri
6.        Lakukan dan awasi latihan rentang gerak aktif/ pasif
       Rasional: mempertahankan kekuatan/ mobilitas otot yang sakit.
7.        Identifikasi aktivitas yang tepat untuk usia, kemampuan fisik
       Rasional: mencegah kebosanan, menurunkan tegangan, dan dapat meningkatkan kekuatan otot.

Dx: Resiko tinggi terhadap cedera yang berhubungan dengan kerusakan neurovaskuler, tekanan dan disuse
Hasil yang diharapkan: pencapaian penyembuhan tanpa komplikasi
1.        Kaji terjadinya kerusakan neurovaskular:
a.         Bertambahnya nyeri
b.        Suhu kulit dingin
c.         Menurunnya kemampuan motoris
d.        Berkurangnya pengisian kapiler     
Rasional: penemuan awal masalah peredaran darah dan saraf akibat sindrom kompartemen diperlukan untuk mencegah hilangnya fungsi
2.      Kaji terjadinya kerusakan kulit:
a.         Abrasi kulit
b.        Sensasi iritasi
Rasional: tekanan akibat gips dapat mengakibatkan kerusakan kulit.
3.      Ajarkan mengenai tanda dan gejala kerusakan kulit
Rasional: pendidikan pasien diperlukan untuk perawatan diri
4.      Dorong latihan aktif dan latihan rentang gerak bagian tubuh yang tidak diimobilisasi
Rasional: disuse dapat mengakibatkan atrofi otot dan kehilangan gerakan sendi


Dx: Kurang perawatan diri yang berhubungan dengan hilangnya kemampuan menjalankan aktivitas kehidupan sehari-hari
Hasil yang diharapkan: pasien menunjukkan penyesuaian yang memuaskan terhadap perubahan kinerja aktivitas kehidupan sehari-hari.
1.      Dorong pasien mengekspresikan keprihatinan dan mendiskusikan cedera dan masalah yang berhubungan dengan cedera, dengarkan secara aktif.
Rasional: fraktur dapat mempengaruhi kemampuan seseorang melakukan aktivitas sehari-hari. Terjadi kehilangan waktu pekerjaan.
2.      Libatkan orang yang berarti bila dibutuhkan dan perlu
Rasional: orang lain dapat membantu pasien melakukan aktivitas hidup sehari-hari
3.      Dorong partisipasi aktif pasien dalam aktivitas hidup sehari-hari
Rasional: rasa harga diri dapat ditingkatkan dengan aktivitas perawatan diri.
4.      Evaluasi kemampuan pasien untuk melakukan perawatan diri di rumah:
a.    Merencanakan regimen terapi
b.    Mengenali potensial masalah
c.    Mengenali situasi yang tidak aman
d.   Meneruskan supervisi kesehatan
Rasional: meyakinkan kemampuan pasien untuk menangani fraktur di rumah. Kekurangan pengetahuan dan persiapan perawatan diri yang buruk di rumah menyebabkan terjadinya ansietas dan ketidakdisiplinan terhadap terapi

Dx: Kerusakan mobilitas fisik b.d nyeri, terapi restriktif (imobilisasi)
Hasil yang diharapkan:
}   meningkatkan/ mempertahankan mobilitas pada tingkat optimal
}   Mempertahankan posisi fungsional
}   Meningkatkan kekuatan/ fungsi bagian yang sakit
}   Menunjukkan teknik yang memampukan melakukan aktivitas
1.        Instruksikan pasien untuk bantu dalam rentang gerak pasien/ aktif pada ekstremitas yang sakit dan yang tidak sakit
Rasional: meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang untuk meningkatkan tonus otot, mempertahankan gerak sendi, mencegah kontraktur/atrofi.


2.        Bantu/ dorong perawatan diri/ kebersihan
Rasional: meningkatkan kekuatan otot dan sirkulasi, meningkatkan kontrol pasien terhadap situasi, dan juga meningkatkan kesehatan diri langsung
3.        Berikan/ bantu dalam mobilisasi dengan kursi roda, tongkat sebisa mungkin. Instrusikan keamanan dalam menggunakan alat mobilitas
Rasional: mobilisasi dini menurunkan komplikasi tirah baring, dan meningkatkan penyembuhan dan normalisasi fungsi organ. Belajar memperbaiki cara menggunakan alat penting untuk mempertahankan mobilisasi optimal dan keamanan pasien
4.      Awasi TD dengan melakukan aktivitas. Perhatikan keluhan pusing
Rasional: hipotensi postural adalah masalah umum menyertai tirah baring lama dan dapat memerlukan intervensi khusus
5.      Awasi kebiasaan eliminasi dan berikan keteraturan defekasi rutin.
Rasional: tirah baring, penggunaan analgesik dan perubahan dalam kebiasaaan diet dapat memperlambat peristaltik dan menghasilkan konstipasi. Tindakan keperawatan yang memudahkan eliminasi dapat mencegah/ membatasi komplikasi.

















BAB III
PENUTUP

A.           Kesimpulan
Adapun kesimpulan dalam materi ini, dapat dilihat bahwa tulang – tulang kita bisa mengalami kelainan dan gangguan tulang. Berbagai macam  kelainan tulang dapat terjadi sesuai dengan faktor penyebabnya. Salah satu gangguan tulang yang  dapat terjadi adalah fraktur. Fraktur adalah patah tulang, yang biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik.
Adapun beberapa jenis fraktur yang dapat terjadi dalam keseharian kita sesuai dengan faktor penyebabnya, antara lain :
1.      Sudut patah
a.       Fraktur Transversal
b.      Fraktur Oblik
c.       Fraktur Spiral
2.      Fraktur Multipel pada Satu Tulang
a.       Fraktur Segmental
b.      Fraktur Kominuta
3.      Fraktur Impaksi
a.    Fraktur Kompresi
4.      Fraktur Patologik
5.      Fraktur Beban ( kelelahan lainnya )
6.      Fraktur Greenstick
7.      Fraktur Avulsi










DAFTAR PUSTAKA

Wilson, Lorraine M., dkk. 2006 . Patofisiologi: konseo klinis proses-proses penyakit, Ed. 6, vol.2 .Jakarta : EGC.
Smeltzer, Suzanne C., dkk. 2002 . Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner dan Suddarth, Ed. 8, vol. 3. Jakarta : EGC.




Artikel Terkait



No comments:

Post a Comment